jump to navigation

Mencontreng Bikin Bingung April 3, 2009

Posted by inisyafi in Pokitik.
Tags:
trackback

Mencontreng Bikin Bingung

KPU Ajak Parpol Sinergis Sosialisasi Sistem Contreng
SUKRA
–Metode pemungutan suara menggunakan tanda contreng dalam Pemilu 2009, ternyata masih menyisakan kebingungan bagi masyarakat. Hal itu terungkap, setidaknya dari sejumlah pendapat para calon pemilih berbagai usia di Kecamatan Sukra, Kamis (27/11). Yayu Um (49) misalnya, salah seorang pedagang di kawasan Pasar Daerah (PD) Sukra ini mengaku, baru mengetahui jika pada pemilihan calon legislatif mendatang sudah berubah. “Saya kira masih pakai coblosan. Ternyata dicontreng. Gimana nyontrengnya?,” ucapnya dengan nada penuh pertanyaan.

Selain bingung dengan aturan yang baru, Yayu Um juga pusing karena banyaknya partai politik (parpol) peserta pemilu. Hal itu diketahui dari maraknya bendera maupun atribut partai yang bertebaran dimana-mana.
“Lihat di tembok dan dinding warung saya. Banyak sekali stikernya. Sekadar numpang nempel saja, tapi gak dikasih tahu gimana cara memilihnya,” ujarnya. Bagi Yayu Um maupun golongan calon pemilih yang berusia di atas 40 tahun, tidak bisa membayangkan berapa lebar surat suara pada saat hari pemungutan suara 7 April 2009 mendatang.
“Kalau surat suaranya selebar Koran, ya bikin bingung lagi. Yang usianya sudah lanjut pasti deg-degan. Bisa-bisa salah milih kalau tidak dijelasin,” jelasnya.
Hal itu dibenarkan Wartono (35), warga Desa Sukra Wetan blok Kedondong. Pemungutan suara model mencontreng akan menyulitkan masyarakat. Terlebih dengan desain surat suara yang besar yang menampilkan gambar parpol dan nama caleg yang sangat banyak, sudah pasti membuat warga kerepotan. ”Cukup ribet kalau terlalu banyak gambar dan nama. Apalagi kalau bagi orang tua yang matanya kurang awas. Kalau dulu pakai coblos lebih mudah,” tandasnya.
Dia berharap, pihak terkait segera melakukan sosialiasi tata cara penghitungan suara pada Pemilu 2009 mendatang. Sebab, sejauh ini sistem mencontreng belum tersosialisasi secara luas di tengah masyarakat. “Khususnya bagi kalangan orang tua dan masyarakat yang pendidikannya rendah,” saran Wartono.
Beda dengan Eri (17), calon pemilih pemula saat dimintai pendapat wartawan koran ini. “Saya sudah paham. Dicontreng,” ucapnya. Terkait pilihan politiknya, gadis manis berambut panjang ini mengaku akan memilih caleg yang berwajah ganteng. “Kan banyak stikernya tuh. Tinggal pilih aja yang paling cakep lah,” ucapnya sambil tersenyum.
Sementara itu, pemberian tanda suara dengan cara mencontreng dikhawatirkan menimbulkan banyak kertas suara tidak sah. Sebab, pemilih yang berpendidikan rendah, sudah terbiasa mencoblos kertas suara seperti pada pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, Ketua KPU Kabupaten Indramayu, Ahmad Khotibul Umam SAg, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersinergis mensosialisasikan tata cara pemungutan suara pada Pemilu 2009 mendatang.
Dijelaskan Khotibul Umam, setelah keluarnya aturan dari KPU Pusat Nomor 35 tahun 2008 tentang tata cara pemberian tanda gambar pada Pemilu Legislatif nanti, KPU dan Desk Pemilu akan segera mensosialisasikannya kepada masyarakat secara bertahap.
Dalam keputusan itu ditegaskan, sistem pemberian tanda gambar pada kertas surat suara dengan cara dicontreng, diceklis atau dengan sebutan dan istilah lainnya. “Contrengan yang dianggap sah adalah yang dilakukan satu kali saja dan tidak boleh dobel. Bisa contreng gambar partai, atau nomor urut nama calegnya saja,” terangnya.
Mencontreng, ujar alumnus IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, adalah sesuatu yang baru bagi masyarakat. Dan sudah tentu akan membuat sebagian besar masyarakat mengalami kesulitan jika tidak dilakukan sosialisasi secara intensif. “Coba bayangkan, bagi petani, nelayan dan masyarakat tradisional lainnya yang tidak terbiasa menggunakan alat tulis. Tentu akan kesulitan dengan sistem mencontreng ini,” ucapnya.
Prioritas pertama yang akan dilakukan oleh KPU, lanjut Khotibul Umam, yakni melakukan sosialisasi kepada seluruh parpol yang ada. “Karena parpol juga memiliki kepentingan yang sama dengan KPU supaya pemilih tidak salah dalam menggunakan aspirasinya. Kalau hanya mengandalkan KPU, tentu hasilnya tidak akan maksimal,” terang mantan Ketua Umum Ika Darma Ayu Komisariat IAIN SGJ Bandung ini.
Kemudian, kata dia, KPU beserta Desk Pemilu juga akan melakukan safari sosialisasi tata cara pemungutan suara di seluruh Kecamatan. “Minggu depan kita eksen mensosialisasikannya,” pungkas mantan wartawan Cakra ini.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: